Sabtu, 09 Juli 2011

waktu dan usia

Usia(waktu) yang telah kita lewatii terasa sekejap saja. Waktu begitu cepat berlalu. Seakan tak terasa. Pernahkah sahabat, disaat tertentu merasakan suatu kejadian yang telah lama terjadi, setahun yang lalu atau tiga tahun yang lalu atau tujuh tahun yang lalu atau bahkan kejadian masa kecil, seakan-akan itu baru sajakemaren terjadi. Setelah semuanya terlewati, begitu terasa cepatnya waktu berlalu. Tak terasa, seakan-akan baru kemaren kita bermain-main sebagai anak kecil, sekarang sudah melewati masa remaja, ada yang sudah dewasa, sebagian sudah memasuki usia senja, bahkan sebagian yang lain sudah tua renta dan sebentar lagi menghadap Yang Maha Kuasa. Sungguh, terasa baru kemaren. Disaat kita sudah menghadap Yang Maha Kuasa maka tiada guna lagi rengekkan penyesalan kita. Dan yang akan kita hadapi adalah pengadilan untuk mempertanggungjawabkan atas apa yang tlah terlaksana.

Maka agar kita mampu memanfaatkan kehidupan dunia secara maksimal, kita harus selalu ingat bahwa ada kehidupan abadi yang menjadi tujuan kita setelah kita meninggalkan dunia ini dan kita harus selalu ingat bahwa dunia ini adalah sarana untuk menggapai kehidupan yang kekal itu. Ya, sarana, bukan tujuan. Hanya sarana.

Sahabat! Jangan terpana apalagi terlena oleh gemerlapnya dunia. Jangan menjadikan dunia sebagai tujuan jika tidak ingin kesempitan melanda dan menyesal nantinya.

Rasulullah SAW bersabda : ”Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya.” (HR. Ibnu Majah).Dalam hadits yang lain,Rasulullah SAW bersabda : ”Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)Yahya bin Muadz mengatakan : “Dunia ini adalah jembatan akhirat. Oleh karena itu, seberangilah ia dan janganlah Anda menjadikannya sebagai tujuan. Tidaklah berakal orang yang membangun gedung-gedung di atas jembatan.” Apakah kita akan mengejar dunia yang hanya setetes dan melupakan samudera kehidupan akhirat yang kekal abadi. Jadilah orang yang cerdas. Rasulullah SAW bersabda, Orang yang cerdik ialah orang yang dapat menaklukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah wafat. Orang yang lemah ialah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah. (HR. Abu Dawud)

Setiap jengkal waktu dari langkah umur manusia akan dipertanyakan pada hari kiamat. Pada hari itu setiap diri tidak kuasa terhadap yang lain. Segala urusan hanya milik Allah. Pengadilan yang sesungguhnya pun berlaku. Yang semula diam pada saat itu angkat bicara. Yang semula membisu pada saat itu lantang berbicara. Berbicara. Menjadi saksi. Berbicara apa adanya. Tak sedikitpun terlewatkan. Memang, hari ini tangan dan kaki kita hanya diam, hanya menurut saja, hanya ikut saja jika nafsu menuntun kita untuk melakukan hal-hal yang sia-sia. Ingatlah hari dimana tangan angkat bicara, kaki memberi kesaksian atas apa yang kita lakukan. Memang, hari ini kita tidak melihat malaikat pencatat amal . Padahal setiap waktu yang terlewat, malaikat tak sedikitpun lupa untuk mencatat setiap yang kita lakukan dan itupun pada hari hisab akan menjadi bukti yang tak terbantahkan. Allah Ta’alaa telah menutupi kesalahan-kesalahan kita. Coba sahabat, jikalau kasalahan-kesalahan kita selama ini semuanya diperlihatkan oleh Allah. Maka akan tampak diri kita yang sesungguhnya, bahwa kita hanyalah manusia yang berlumur dengan dosa. Allah telah menutupi aib-aib kita, namun kita malah semakin berani menumpuk-numpuk kesalahan. Dimanakah rasa malu, rasa takut kita kepada Allah, apakah kita lebih malu dan lebih takut ketahuan manusia daripada ketahuan oleh Allah. Padahal Allah Maha Melihat yang nampak dan yang tersembunyi. Tidak ingatkah kita aib-aib itu akan memperberat timbangan kebuurkan yang berarti mengikis kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan.

Masih ingatkah dengan sabda Rasulullah SAW:“Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan.” (HR. Ahmad). Lalu jawaban macam apa yang dapat kita samapaikan bila yaumul hisab itu telah tiba sedangkan kita telah menyia-nyiakan umur kita. Sedangkan kita telah menghabiskan masa muda dengan berhur-hura. Sedangkan harta kita terkontaminasi dengan cara-cara yang diharamkan-Nya dalam memperolehnya begitupun kita membelanjakannya untuk hal-hal yang tidak di ridhai-Nya. Sedangkan kita menuntut ilmu agar disebut alim saja tanpa ada niat untuk mengamalkannya.

Ingat lah sabda Rasulullah SAW, “Kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat tanpa sandal, telanjang bulat dan tidak dikhitan. Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat (aurat) yang lain?” Nabi Saw menjawab, “Pada saat itu segala urusan sangat dahsyat sehingga orang tidak memperhatikan (mengindahkan) hal itu.” (Mutafaq’alaih).

Sahabat, selama Allah masih memberikan nafas kehidupan kepada kita, selama itu pula masih ada kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri kita. Umur yang tak terasa dan sudah berlalu biarlah berlalu. Itulah ketetapan Allah yang telah terjadi pada kita. Kita ambil pelajaran dari apa yang telah kita lalui dan sekarang bagaiamana kita harus berusaha memanfaatkan dengan semaksimal mungkin sisa usia yang Allah anugerahkan kepada kita untuk menggapai kehidupan akhirat yang abadi. Jangan sampai tak terasa, tahu-tahu nanti kita jatuh ke jurang penyesalan dan dilemparkan ke dalam api neraka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar